Nekad - NekadTan Ke Air Terjun

9
Selamat pagi kawan semua, mungkin cerita ini agak basi atau bisa di bilang udah uzur. saya akan mencertakan di mana saya bersama teman - teman saya melakukan sebuah perjalanan yang mungkin tak bisa di lupakan. setelah sebelumnya salah pernah posting tentang  Kendahan Aek Mertua. kali ini saya akan bercerita tentang ke sana nya itu yang tak terlupakan bersama kawan2 saya hendri, rudi, wasis, dodik, rian. sok atuh. ini lah kisah traveling NEKAD saya. kami , kisah ini saya post dalam rangka berpartisipasi di NEKAD TRAVELER yang diselenggarakan telkomsel.com/nekadtravelerdan apabila anda semua ingin ikut bisa mengunjungi telkomsel.com/nekadtraveler dan tonton videonya.


 ok langsung aja ceritanya, mungkin saya susun dalam beberapa bagian.

Sebelum berangkat sengaja kami membawa nasi bungkus untuk makan siang di lokasi, lalu kami segera meluncur ke lokasi yg dekat dengan hutan perbatasan Sumatera barat ini. Setelah menyeberangi jembatan gantung jalan relatif sempit dengan hutan kecil dan sesekali menjumpai rumah penduduk yg masih jarang. Lalau kami menjumpai tanjakan curam dengan jalan yang disemenisasi tanjakan dengan panjang kira-kira 500m ini kadang harus menurunkan penumpang agar kendaraan bisa naik. Setelah pendakian ini beberapa ratus meter kemudian semenisasi pun habis diatas bukit dan masuk ke area hutan.

Di hutan inilah terakhir kita bisa membawa kendaraan, dan ada jasa parkir sekaligus menjaga kendaraan dengan biaya  saat itu sekitar Rp. 25.000 / Kendaraan, resmi atau tidak bukanlah menjadi pembahasan kita. Setelah memarkirkan kendaraan langsung berjalan kaki pada jalur setapak dengan jarak sekitar 2,5 - 3 km untuk mencapai lembah air terjun, dan perjalanan ini pun begitu teduh dengan rimbunan pohon dan semak meskipun mendaki dan menurun hemmm seruuu....

Perjalanan akan terobati setelah turun ke lembah dan melihat air jernih dengan suara curah air terjun yang sudah mulai terdengar merdu melengkapi nyanyian alam di lembah sungai asri ini, ada yang membasuh muka, kaki atau bahkan coba meneguk air alam ini.

Sekitar 300 meter dari lembah ini kita langsung mendapati air terjun yang tingginya kira-kira 6 meter dengan air jernih dan landasan curah batu datar sedikit licin. Perut mulai lapar karena letih ditambah di hamparan curah air terjun ini ada beberapa bart datar yang menggoda kami untuk segera membuka bungkusan nasi. Wahhh sempurna makan siang ini rasanya..

Setelah puas bermain-main dengan air kami mendaki tangga kayu yang sengaja dibuat untuk mempermudah pengunjung naik dan melanjutkan perjalanan. Terus menyusuri aliran sungai di lembah ini sekitar 200m kami langsung menjumpai tujuan akhir kami yaitu air terjun Aek Martua mempunyai 2 lapis terjun yang begitu mempesona. Terdapat panggung alam yang begitu strategis saya sengaja memasang tripot dan langsung narsis beramai-ramai.

1. Perkenalan Aek Mertua

Aek Martua atau biasa diucapkan awam Aek Matuah, adalah nama sebuah tempat wisata alam berupa air terjun yang masih asri. Dari berbagai sumber nama Aek Martua berasal dari bahasa mandailing yang berarti Air Bertuah atau air sakti. Penduduk kecamatan bangun purba ini mayoritas adalah suku mandailing sehingga bahasa keseharian didaerah ini adalah bahasa mandailing.

2. Waktu
 inilah hal yang penting, waktu itu lebaran idul fitri ke 3 saya ke sana itu berangkat dari tempat saya di desa yang mungkin di bilang desa trans ( SP3 ). saya berangkat dari rumah kurang lebih jam 09.00 WIB. dan sampai di sana sekitar jam 11.00 WIB. jauh juga bukan.

3. Perlengkapan
bisa di bilang ini juga perlu karena kita memasuki kawasan hutan, ya memang tempat wisata ini berada di dalam hutan, yang tak kalah pentingya yaitu perlengkapan kita. mulai dari makan&minum, jajanan, dan perlengkapan yang di perlukan. kalau mau kemping ya bawa tenda sekalian.

4. Rute
 Rute akan kami pandu perjalanan dari Ibukota Kabupaten Rokan Hulu arah dari pekanbaru. Memasuki kota pasir pengarayan ada terpasang penunjuk arah "TANGUN" dan menjumpai simpang ke kiri jalan lumayan bagus untuk dilalui kendaraan baik roda 4 dan roda dua. Jalan lurus tak ada simpang yang harus di hafal hingga bertemu dengan kota kecil tersebut Bangun Purba mulailah lihat ke arah kiri mencari gerbang ke arah air terjun Aek Martua.

Setelah memasuki gerbang ini kita akan langsung melihat jembatan gantung dan melewati jembatan ini harus berhati-hati, jika kehilangan keseimbangan bisa terjatuh akbibat ayunan jembatan.

Menjumpai jalan setapak semenisasi ambilah jalur kiri, meskipun sebenarnya jalur ini akan menyatu tetapi lebih banyak pengunjung mengambil jalur ini.

Hingga jalur semenisasi ini seolah habis mentok di sungai kecil padahal masih ada jalur mendai seperti yang kami ceritakan sebelumnya. Ambilah ancang-ncang yang pas di pendakian ini agar tenaga kendaraan mampu mencapai puncak. Dan perjalanan pun akan menuju ke arah air terjun karena tidak ada rute yang lain.

Siapkan juga energi extra untu kerjalanan pulang, jangan buang sisa air minum yang ada, karena jalur pulang lebih meletihkan dibandingkan dengan jalur berangkat.


mungkin ini cerita ku, dan apa ceritamu !!!!!

just for u